WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Teen Pregnancy : Raih atau Hindari?

Kalau Sunners, udah baca artikel mimin dari mulai menstruasi, selaput dara? Sekarang mimin lanjut bahas tentang hamil di usia muda, karena ketiga hal ini memang sangat berkaitan lho!

Tahukah kamu kalau kehamilan membutuhkan kesiapan secara fisik dan mental? Maka, sebaiknya kamu hamil di waktu yang sudah siap, agar nggak membawa dampak buruk bagi kesehatan kamu dan bayi nantinya. Kehamilan di usia remaja sepertinya masih banyak terjadi di dunia, baik yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan. Banyak remaja di usia 15-19 tahun sudah mengalami kehamilan.

Nah, contohnya dibawah ini lagi marak banget nih berita soal tingginya permintaan menikah di Jepara dan rata-rata usia yang menikah adalah 18 tahun lho sunners!

Berdasarkan WHO, sekitar 16 juta wanita usia 15-19 tahun melahirkan anak setiap tahun, sekitar 11% dari kelahiran di seluruh dunia. Ini merupakan jumlah yang cukup besar dengan risiko yang besar juga. Nah, berikut resiko kesehatan bagi kamu jika hamil terlalu muda :

  1. Risiko kematian ibu dan bayi
    Rata-rata di negara berkembang, ada sekitar 50.000 remaja perempuan usia 15-19 tahun yang meninggal tiap tahun pada masa kehamilan atau pada saat proses persalinan. Sekitar satu juta bayi yang lahir dari remaja perempuan juga meninggal sebelum usia bayi mereka mencapai satu tahun. Bayi dari seorang ibu yang melahirkan di bawah usia 18 tahun, 60% lebih berisiko meninggal sebelum satu tahun. Makin muda remaja perempuan mengalami kehamilan, maka makin berisiko bagi dirinya saat persalinan dan anak yang dikandungnya. Hal ini dikarenakan tubuhnya secara umum belum siap untuk menjalani proses persalinan, antara lain karena pinggul yang sempit. Bukan hanya pinggul yang sempit, tetapi sel-sel di mulut rahim, otot panggul, dan tulang panggul masih terlalu lemah untuk bisa menerima kehamilan. Gak cuman itu nih sunners, hipertensi juga bisa terjadi lho pada kehamilan pertama di usia muda.
  2. Risiko ketuban pecah dan bayi lahir prematur
    Risiko ketuban pecah pada usia dini lebih besar. Nah, ketika ketuban pecah, maka terpaksa bayi yang ada di kandungan dilahirkan prematur. Nah, kalian udah tau belum bayi prematur itu apa? Bayi prematur itu adalah bayi yang lahir sebelum usia kandungan mencapai 37 minggu. Bayi yang terlahir prematur membutuhkan penanganan intensif karena organ tubuhnya belum berkembang dengan sempurna. Contohnya risiko gangguan pernapasan, pencernaan, penglihatan, serta masalah tumbuh kembang.
  3. Penyakit menular seksual / HIV
    Remaja yang berhubungan seksual di usia muda lebih berisiko mengidap penyakit menular seksual, seperti HIV, klamidia, sifilis, dan herpes. Dari rasa ketidaktahuan atau belum matangnya pola pikir membuat banyak remaja berhubungan seksual tanpa menggunakan pengaman seperti kondom. Penyakit-penyakit tersebut dapat ditularkan bahkan melalui hubungan seks termasuk seks oral atau anal. Kehamilan berawal dari sel telur yang telah dibuahi oleh sel sperma. Pada proses kehamilan normal, sel telur yang telah dibuahi akan menetap di tuba falopi (saluran sel telur) selama kurang lebih tiga hari, sebelum dilepaskan ke rahim. Di dalam rahim, sel telur yang telah dibuahi akan terus berkembang hingga masa persalinan tiba. Nah, penyakit klamidia dan infeksi gonore pada wanita umumnya menyebabkan penyakit radang panggul (pelvic inflammatory disease/PID) yang dapat memicu gangguan pada tuba falopi. Tuba falopi adalah organ yang paling sering ditempeli sel telur pada kehamilan ektopik. Pada kondisi ini, pembuahan sel telur dapat terjadi di luar rahim atau disebut kehamilan ektopik. Trus, kehamilan ektopik itu apa sih min? Kehamilan ektopik itu sel telur yang telah dibuahi tidak menempel pada rahim, melainkan pada organ lain. Selain tuba falopi, kehamilan ektopik juga bisa terjadi di indung telur, leher rahim (serviks) atau di rongga perut.
  4. Tekanan darah tinggi
    Hamil di usia remaja berisiko tinggi memicu tekanan darah tinggi. Selain itu, juga berisiko menderita preeklampsia, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, adanya protein dalam urine, dan tanda kerusakan organ lainnya. Pengobatan harus dilakukan untuk mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi, tetapi hal ini juga dapat mengganggu pertumbuhan bayi dalam kandungan.

Nah, risiko-risiko di atas baru sebagian yang mimin bahas, karena sebenarnya masih ada banyak lagi resiko yang terjadi di kehamilan usia muda. Ngomongin soal hamil muda, ada kaitannya nih sama pernikahan. Tau ga sih kalau di Indonesia sendiri, pemerintah punya peraturan yang mengatur tentang minimal usia yang diperbolehkan untuk menikah. Undang-Undang No 16 Tahun 2019 sebagai Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan seperti yang diamanatkan Mahkamah Konstitusi (MK). UU Perkawinan yang baru mengubah batas minimal menikah laki-laki dan perempuan yang akan menikah minimal sama-sama di usia 19 tahun. Sebelumnya, batas usia menikah bagi laki-laki ialah 19 tahun dan perempuan 16 tahun.

 

Semoga info dari mimin ini bermanfaat yaa buat kalian, dan buat kalian yang lagi capek sekolah terus ngerasanya pengen nikah, coba pikirin ya risiko yang udah mimin jelasin di atas, supaya ga ada rasa penyesalan di kemudian hari. Semangat, masa depan kamu masih panjang.

Oleh : Regina Apudan Kartini Sidebang, Universitas Kristen Indonesia

Leave A Comment