WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Setiap Orang Punya Kesempatan, tapi Tidak Untuk Kesalahan yang Sama

Di masa SMA, kelas XI memang sedang rentan-rentannya mendapati rasa penasaran. Dari kisah percintaan, pendidikan, persahabatan, semua menjadi satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. 

Tiara dan Gerry dua sejoli yang berpacaran sejak SMP ini masih menjalani kisah yang sama. Tidak hanya teman, bahkan guru guru pun mengetahui kedekatan mereka. Walaupun tidak satu kelas, mereka kerap menghabiskan waktu di Kantin berdua. 

Tiara: “Gerryyyy….pulang sekolah kita langsung pulang aja ya, kata Mama jangan main dulu hari ini.”

Gerry: “Yah Tiara, aku baru aja mau ngajak kamu nonton. Ada film baru lho.” 

Tiara: “Tapi, Ger…kata Mama….” (Belum sempat Tiara menyelesaikan ucapannya, Gerry memotongnya dengan sigap).

Gerry: “Plisssssss Tiaraku yang cantik, bohong aja sekali ini ya. Bilang aja ada tugas kelompok.”

Hanyut dengan ucapan Gerry, akhirnya Tiara pun mengiyakan rayuannya, dengan anggukan. 

Waktu menunjukkan pukul 15.00, bel sekolah berbunyi sangat nyaring. Gerry langsung menghidupkan motornya yang berada di parkiran sekolah paling belakang. Sambil memegangi gawai Gerry, Tiara tertegun melihat nama kontak wanita yang saat itu menelepon Gerry. Nama kontak itu bertuliskan “Kiara” lengkap dengan emotikon love warna merah. Tiara bukan perempuan yang kerap memeriksa gawai kekasihnya. Hubungan yang telah mereka bangun selama 2 tahun, seketika membuat Tiara merasa dikecewakan. Kiara perempuan yang tidak lain adalah mantan Gerry waktu SMP. Tiara tahu bahwa Gerry dulu sangat mencintainya karena Kiara adalah perempuan yang sangat cantik dan banyak diimpikan oleh lelaki seusianya. Walaupun satu sekolah dengannya, namun Tiara tidak begitu dekat dengan Kiara. Dua kepribadian yang sangat berbeda. Tiara adalah anak aktif dan berprestasi yang selalu dibangga-banggakan guru, sedangkan Kiara adalah anak hits dimana ketika Kiara berjalan seakan semua mata tertuju padanya. 

Suara klakson Gerry mengagetkan Tiara yang merenungi panggilan telepon yang baru saja ia lewatkan, terlihat sekilas pesan masuk dari gadis tersebut, sebelum Tiara menyerahkan gawainya pada Gerry. 

Tiara: “Ini Ger HP kamu, oiya tadi ada yang telpon.”

Gerry: “Siapa?”

Tiara: “Kiara.”

Seketika wajah Gerry memerah seakan menyembunyikan sesuatu yang tak ingin Tiara ketahui. 

Gerry: “Oh Kiara, palingan nanyain Bagas si.” 

Tiara hanya terdiam, mengiyakan apa yang diutarakan Gerry walaupun mata tak bisa dibohongi. 

Di perjalanan menuju Bioskop Tiara hanya terdiam, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. 

Gerry: “Tiara, kok diem aja, biasanya cerewet pacar aku?”

Tiara: “Gpp.”

Setelah itu tak ada lagi percakapan yang keluar dari mereka sampai akhirnya sampai di Bioskop. Turun dari motor, akhirnya Tiara tidak bisa lagi menahan amarah dan rasa cemburunya. Ia marah dan meminta pulang pada saat itu juga. 

Tiara: “Aku mau pulang aja, aku udah ga mood nonton.”

Gerry: “Lho kenapa? Kita udah jauh-jauh lho ke sini.”

Tiara: “Kamu masih berhubungan kan sama mantan kamu?”

Gerry: “Ga ada apa-apa sayang, ini kamu periksa aja HP aku liat aja kalo ga percaya, bawa pulang sekalian nih biar kamu percaya sama kamu.”

Melihat sikap Gerry yang seakan pasrah, akhirnya Tiara percaya kembali dengan Gerry. Tanpa ingin melihat isi gawainya, Tiara mencoba percaya kembali dan bersikap seperti biasa layaknya tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Memang sikap Gerry yang mampu memperlakukan Tiara bak seorang Putri membuat Tiara menjadi mudah luluh, jika Gerry melakukan hal yang tidak Tiara sukai. 

Gerry: “Senyum manisnya mana, jangan cemberut lagi. Yuk kita beli es krim dulu, buat tuan putriku yang cantik ini.”

Tiara: “Janji ya kamu ga bohong.”

Gerry: “Enggak sayang.” 

Tiara tersenyum kembali dan menikmati es krim sambil menunggu filmnya dimulai.

Pukul 16.00 film dimulai, Tiara dan Gerry memasuki ruang Bioskop, sampai pukul 17.40 akhirnya film selesai dan mereka memutuskan untuk pulang. Gerry mengantarkan Tiara sampai dengan rumahnya dan pamitan untuk pulang. 

Gerry: “Sampaiiiii, selamat berjumpa kembali tuan putriku. Besok aku jemput agak pagian ya, kita sarapan bubur ayam dulu di bang Asep.”

Tiara: (Tiara menganggukkan kepala dan tersenyum tanda setuju). 

Sesampainya di rumah, Gerry segera memeriksa gawainya. Ada 10 panggilan tak terjawab dari Kiara dan 2 pesan masuk, yang bertuliskan. 

“Kamu di mana?”

“Jadi jemput aku?”

Dengan siap Gerry menelepon Kiara. Namun tak kunjung diangkat. 

(Untungnya Tiara ga liat HP gua tadi, kalo sampe ketauan kacau deh urusannya, sekarang Kiara ngambek, haduh pusing pusing) gumam Gerry sambil memasuki rumahnya. 

Pagi, sekitar pukul 6 pagi Kiara menelepon Gerry kembali. 

Kiara: “Halo Gerry, dari mana aja si. Dari kemarin telepon ga diangkat terus?”

Gerry: “Iya maaf cantik, maafin aku, ya.”

Kiara: “Yauda anterin aku sekarang nyari alat-alat lukis, cepetan ya aku tunggu 10 menit.” 

Tanpa aba-aba Kiara langsung menutup teleponnya. Gerry segera bergegas menemui Kiara dan mengantarkan Kiara mencari alat lukis yang dibutuhkan Kiara. 

Kiara sudah menunggu Gerry di depan rumahnya sambil memegangi helm hello kitty yang biasa ia gunakan. 

Gerry: “Selamat pagi Kiara yang cantik, ayo naik.”

Tanpa membala ucapan Gerry, Kiara langsung naik ke atas motor Gerry. Di tengah jalan tiba-tiba….

Kiara: “Gerry, aku lapar. Mau sarapan bubur ayam dulu di bang Asep.”

Gerry kaget, baru teringat bahwa pagi ini ia sudah janji akan menjemput Tiara dan sarapan bubur bersama. 

Gerry: “Ra, sarapannya dibungkus aja ya. Aku lagi buru-buru soalnya.”

Kiara: “Apaansi baru juga jam enam lewat lima menit, kalo kamu ga mau nemenin yauda aku sendiri aja.”

Gerry merasa serbasalah, dan akhirnya memilih menemani Tiara makan bubur. 

Gerry menulis pesan pada Tiara. 

“Tiara, maaf ya hari ini kita ga jadi makan bubur bang Asep, besok aja ya. Aku disuruh Mamaku dulu ke pasar beli cumi, gpp, kan?”

“Oiya, gpp Ger.”

Setelah selesai sarapan Gerry dan Kiara memutuskan langsung ke tempat ATK untuk membeli alat lukis yang dibutuhkan Kiara, dan mengantarkan Kiara ke sekolah. 

Pukul 07.30 Gerry menjemput Tiara seperti biasa. Tiara tersenyum melihat Gerry dan Gerry membalas senyum Tiara tanpa rasa bersalah. 

Sepanjang perjalanan mereka mengobrol seperti biasa, membicara kegiatan setelah pulang sekolah, tugas, ataupun rencana liburan pekan depan. 

Sampai tiba waktu jam olahraga di kelasnya Gerry. Gerry melupakan gawainya di atas meja. Bagas teman dekat Gerry yang melihatnya langsung mengambilnya. Awalnya Bagas berniat untuk menyimpannya di tas Gerry, namun tak sengaja layar gawai Gerry menyala. Dia terkejut wallpaper gawainya adalah Foto Kiara, padahal Gerry tahu kedekatan antara Bagas dan Kiara. Karena kesel dan tak mau ambil pusing, Bagas berniat memberikan gawai Gerry pada kekasihnya, Tiara. Kebetulan tak lama dari itu Tiara melintas di depan kelasnya Bagas. 

Bagas: “Ra, tunggu.”

Tiara: “Ada apa Bagas?”

Bagas: “Ini HPnya Gerry ketinggalan, barangkali lu mau kasih ke dia atau lu amanin dulu deh, di kelas lagi kosong soalnya.”

Tiara: “Oh oke, makasih, Gas.” 

Baru mau melangkah, langkah Bagas tercegat dengan ucapan Tiara yang tiba-tiba berucap.

Tiara: “Gas, kemarin emang Kiara nanyain lu lewat Gerry, ya?” 

Bagas: (Bagas menengok) Hah? Engga, gua sama Kiara emang lagi renggang, tapi Kiara sama sekali ga nyariin gua tuh.”

Tiara: “Oh yauda.”

Sambil berjalan pelan, tangan Tiara ditarik oleh Bagas. 

Bagas: “Bentar, Ra. Lu jelasin ada apa sebenarnya?”

Tiara: “Ga ada apa-apa kok, lu kalo mau tau tanya aja sama cewek lu langsung.”

Bagas agak emosi mendengar ucapan Tiara seakan menutupi sesuatu. 

Bagas: “Ra, lu buka deh HPnya si Gerry mending, biar lu tau gimana Gerry di belakang lu.”

Tiara tak menjawab ucapan Bagas dan langsung membuka Gawai Gerry. 

Tiara: “Kok passwordnya salah, ya. Kemarin perasaan masih tanggal jadian deh pinnya.”

Bagas: “Coba sini, Ra.” (Tiara memberikan gawai kepada Bagas, dan seketika terbuka)

Tiara: “Hah lu apain, Gas?” 

Bagas: “Bener dugaan gua, mereka masih berhubungan Ra, passwordnya tanggal ulang tahun Kiara.”

Tak tahan mengetahui semuanya, Tiara pergi dengan wajahnya memerah dan meneteskan air mata sambil berjalan agak cepat. 

Setelah jam pelajaran pertama selesai. Gerry ke kelas, dan memeriksa tasnya. Ia menyadari bahwa gawainya tidak ada di sana. Sambil panik, ia berteriak.

Gerry: “Woi ada yang liat HP gua ga?”

Teman kelas: “Ngga.” 

Irene: “Coba tanya Bagas, tadi setau gua yang terakhir keluar dari kelas dia deh.”

Bagas yang baru saja dari Kantin langsung ditanya oleh Gerry. 

Gerry: “Gas, lu liat HP gua ga? Tadi kata Irene lu yang terakhir di kelas?”

Bagas: “Oiya, tadi kebetulan Tiara lewat pas gua liat HP lu di meja, yauda gua kasih dia aja.”

Gerry: “Lah, kenapa lu kasih ke Tiara? Kan bisa lu taro di tas gua.”

Bagas: “Kenapa emang? Di pacar lu kan lebih aman, daripada di tas. Di kelas juga kosong, kan?” 

Gerry: “Ah mati gua.” (Sambil menghela napas yang tidak karuan, Gerry langsung menuju kelasnya Tiara)

Melihat kelasnya Tiara sedang belajar, akhirnya Gerry memutuskan kembali ke kelas dan menunggu sampai jam pulang sekolah. 

Bel sudah berbunyi, waktu menunjukkan pukul 15.00. Para siswa meninggalkan kelasnya masing-masing. 

Gerry yang sedari tadi menunggu Tiara, sudah berada di depan kelas sebelum kelas Tiara dibubarkan. 

Dengan wajah masam Tiara keluar dari kelasnya dan berpisah dengan teman sebangkunya, sambil melambaikan tangan. Seraya menemui Gerry dan memberikan gawai miliknya. Tiara sudah membaca semua pesan antara Gerry dan Kiara, tentang tidak jadi sarapan bubur dan malah mengantarkan Kiara membeli alat lukis. Tiara sudah muak dengan semuanya. 

Tiara: “Ini HP kamu, aku pulang dijemput Papaku, duluan ya.”

Gerry: “Ra, aku bisa jelasin, Ra.”

Tiara: (Sambil berjalan menuju gerbang) tidak ada yang perlu dijelasin lagi Ger, semuanya udah jelas kok.”

Gerry: “Raaa aku mohon dengerin aku kali ini aja.”

Tiara: “Sekali masih aku maafin Ger, tapi ternyata kepercayaan aku selama ini kamu sia-siain. Kamu malah khianatin aku.”

Gerry: “Raaaa, maafin aku. Aku janji bakal berubah.”

Tiara: “Ga usah Ger, aku ga mau meru ah seseorang demi aku. Aku mau seseorang berubah karena dirinya sendiri. Ternyata dari chat yang aku baca, kamu ketemu Kiara bukan cuma sekali ini aja. Bahkan saat aku lagi butuh kamu, kamu malah seneng-seneng sama Kiara. Aku ga bisa bertahan sama orang yang belum selesai sama masa lalunya, Ger. Aku harap 2 tahun ini cukup mendewasakan kamu ya. Semoga kamu paham maksud aku.”

Gerry: “Ra, aku ga mau putus Ra, dengerin aku sekali ini aja, Ra.”

Suara klason mobil Papanya Tiara sudah terdengar, Tiara pun menyebrang dan naik ke mobilnya dan pulang dengan hati terluka.

 

Ami Fahira-Universitas Negeri Jakarta

Leave A Comment