WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Penghuni Pulau Cocos

“….Kiara, Leo, Dino, Jane dan Andra!” Pak Wahyudi menyebutkan nama-nama yang akan menjadi tim untuk mengerjakan projek outdoor bulan ini. Seketika teriakan Kiara dan Jane memenuhi ruang rapat. Andra dan Dino hanya tersenyum melihat tingkah Jane dan Kiara. Sementara Leo masih belum menyadari namanya disebut dan masih memberi perhatian penuh pada snack rapat yang ada di hadapannya. Kiara dan Jane berlari kecil kearah kursi Leo dan memeluk Leo dengan penuh kegembiraan.

“ Leo!!! Akhirnya Leo bisa ikutan projek outdoor” seru Kiara dengan penuh kegirangan sambil memeluk Leo.

“Akhirnya Le,,” Lanjut Jane dan ikut memeluk Leo.

“Hah? Siapa? Aku?” Tanya Leo dengan penuh kebingungan dan perlahan melihat ke layar presentasi. Seketika Leo bangkit dari tempat duduknya dan bersujud mencium lantai kantor.

“Waduuh, dapat projek outdoor berasa dapat Jodoh ya Le?” seru Dino dengan senyum bangga di wajahnya.

“Makanya, kalau rapat yang dilihat itu presentasinya, bukan lempernya! Biar gak telat senangnya.” Sindir Pak Wahyudi. Dilanjut tawa dari karyawan lainnya.

“Siap pak!” sahut Leo sambil menghormat pak Wahyudi.

Usai dari rapat kantor, Kiara mengajak kelima partnernya untuk mendiskusikan projek outdoor mereka. Projek ini sepenuhnya diserahkan kepada mereka. Baik penentuan lokasi, pengajuan dana dan juga ide. Mereka harus membuat video tentang pesona alam sehubungan dengan pekerjaan mereka yang berfokus pada kelestarian lingkungan, keindahan alam dan perjalanan wisata. Setelah rapat yang begitu begitu lama, mereka memutuskan untuk diving di Pulau Cocos. Mereka memutuskan untuk membuat video tentang keindahan alam bawah laut disana. Andra mengajukan pulau ini karena masih banyak alam bawah laut disekitar Pulau Cocos yang masih jarang disentuh oleh penyelam. Keindahan alam bawah laut di pulau itu juga direkomendasikan oleh koneksi mereka pecinta diving.

Seminggu setelah mereka terpilih, hari ini tepatnya hari minggu mereka berlima bertemu di Bandara Soekarno-Hatta. Mereka terbang menuju Australia dan melakukan perjalanan menuju ke Pulau Cocos. Sesampainya mereka di Pulau Cocos mereka disambut oleh pegawai-pegawai penginapan dengan sangat ramah. Mereka diantar ke sebuah ruangan dengan Kasur yang berbaris, ada sekitar 10 kasur saling berhadapan di ruangan itu. Mereka akan bermalam di penginapan itu dan melakukan perjalanan menuju lokasi diving esok harinya. Penginapan di tempat ini masih sangat sederhana dan fasilitasnya juga tidak lengkap. Jane menggerutu karna tidak nyaman dengan penginapan tersebut begitu juga dengan Andra. Dino dan Kiara terlihat baik-baik saja dengan kondisi tersebut dan merasa maklum karena tempat ini juga masih sangat terpencil. Sementara Leo sibuk mengotak-atik tasnya mencoba meraih snack yang dibawanya dari Jakarta.

Saat matahari mulai menampakkan diri, Kiara membangunkan teman-temannya untuk berkemas. Mereka harus segera bergegas menuju lokasi dan tiba disana sebelum gelap. Mereka harus berjalan kaki menuju lokasi dikarenakan di pulau ini tidak ada transportasi yang bisa membawa mereka ke lokasi diving tujuan mereka. Saat hendak meninggalkan penginapan mereka bertemu dengan seorang kakek tua yang merupakan tetua di pulau tersebut. Kakek itu berhenti dan menghambat jalan mereka.

“Apapun yang menjadi milik alam, biar tetap menjadi milik alam. Yang kamu temui utuh, tinggalkan dengan keadaan utuh juga.” Tutur kakek tua itu tanpa menoleh kepada mereka.

Mereka berlimapun terkejut dengan kehadiran si kakek. Leo bersembunyi di belakang tubuh Andra yang tak mampu menyembunyikan keseluruhan tubuh Leo. Sementara yang lain hanya menunduk menandakan bahwa mereka mengerti ucapan sang kakek. Mereka pun berjalan menjauhi penginapan dan melalui beberapa rumah penduduk. Rumah-rumah disana memiliki jarak yang jauh antara satu dan lainnya. Selama perjalanan mereka hanya melihat beberapa penduduk yang lalu. Penghuni pulau ini masih sangat sedikit, mungkin itu sebabnya alam disini masih asri dan tak tercemar. Setelah bertanya pada penduduk yang lalu, ternyata lokasi yang mereka tuju sudah memiliki jalur yang dibuat oleh penduduk. Jadi mereka hanya perlu mengikuti jalur tersebut dan jalur itu akan mengantarkan mereka menuju lokasi sasaran mereka. Merekapun berjalan memasuki hutan yang dipenuhi pepohonan yang menjulang tinggi dan semak belukar. Mereka mengikuti jalan setapak yang akan menuntun mereka menuju lokasi yang mereka inginkan.

“Guys, bisa istirahat dulu gak? Napas gua uda sisa seliter lagi nih!” Keluh Leo yang sudah membaringkan tubuhnya di tanah.

“Yah, Leo baru juga sejam jalannya. Ayo dong Le, uda gak sabar nih ketemu sorga dunia!” Gerutu Jane

“Masih jam 10 jane, masih banyak waktu. Iya lu-nya sampai ke surge dunia Jane, gua-nya sampe surga akhirat!”

“Lu yakin masuk surga Le?” balas Andra sambil tertawa kecil

“Sudah, istirahat aja sebentar, toh kita masih punya banyak waktu. Kita ini kan tim, satu istirahat semua harus istirahat. Jangan memaksakan satu sama lain.” Tukas Dino menengahi perdebatan kecil tersebut.

Mereka pun akhirnya memutuskan untuk duduk sebentar dan minum air yang sudah mereka sediakan dari penginapan. Leo mengotak-atik tasnya dan membagikan cemilan yang dia punya dari tasnya.

“Leo memang terbaik!” Kiara mengambil snack dari tangan Leo dengan mata berbinar.

“Din, masih jauh ya pantainya?” Tanya Leo

“Dengan kecepatan yang kita punya, kira-kira kita kan tiba di lokasi di jam 3 sore le.” Jawab Dino

“ Pulang dari sini kayaknya timbangan gua bakal turun 10 kilo deh” guman Leo sambil mengemil snacknya.

Yang lainya hanya tertawa melihat Leo dengan tangan dan tasnya yang dipenuhi makanan. 

Setelah berjalan kurang lebih 7 jam lamanya, mereka tiba di pantai. Pantai yang indah dan bersih. Tidak ada sampah yang terlihat dan hamparan pasirnya pun sangat bersih. Jane dan Kiara segera meletakkan tas carrier mereka dan berlari menuju bibir pantai. Leo merebahkan tubuhnya di hamparan pasir. Sementara Dino dan Andra mencoba mencari dan menghubungi penduduk disana. Menurut penjaga penginapan ada dua rumah di sekitar pantai, mereka bisa minta tolong pada warga itu, untuk membawa mereka menuju spot bawah laut yang indah.  Setelah menemui warga akhirnya mereka bisa diving esok harinya.

Hari semakin sore, merekapun mendirikan tenda. Kiara dan Jane menyiapkan hidangan untuk makan malam mereka. Semakin malam cuaca semakin dingin. Mereka membuat api unggun dari remahan kayu yang ada disekitar mereka. Mereka menyeruput kopi sambil menghangatkan tubuh mereka didekat api unggun.

“Din, temenin gua dong. Kebelet nih!” pinta Leo pada Dino

“Bentar, gua ambil senter dulu!”

Dino dan Leo berjalan memasuki hutan di dekat pantai.  Dino merasa ada sesuatu yang mengikuti mereka. Tangan Dino mengelus lehernya untuk membuatnya sedikit lebih tenang. Setelah menemukan tempat yang tepat, Leo akhirnya bisa dengan tenang mengeluarkan segala sesuatu yang dia tahan. Saat berjalan menuju tenda, perasaan Dino semakin gusar dan dia mempercepat langkahnya. 

“Din, jangan cepat-cepat. Gua takut, uda hutannya gelap lagi, gak ada lampu.”

“kalo ada lampu namanya kota, bukan hutan” ketus Dino

“Yauda, gua depan deh Din. Lu dibelakang jagain gua” 

Malas berdebat, Dino mengikuti kemauan Leo. Beberapa langkah kemudian Leo tiba-tiba berhenti dan membuat Dino menabraknya dari belakang.

“Kenapa Le?” Tanya Dino

“Din, lu denger suara gamelan gak?” 

“Kebanyakan makan micin lu Le, ini Pulau Cocos Australia Le, bukan Indonesia. Masa setan disini main gamelan” balas Dino sekenanya

“Setan? Dih, jadi merinding. Tadi gua mikirnya warga Din. Kok lu bahas setan sih? Kan gua jadi parno!”

“Gak ada warga di sini Le, cuma ada 2 rumah, itu pun jauh ke arah utara.”

“Coba lu diem. dengerin!”

Dino pun diam sejenak dan memfokuskan pendengarannya mencoba mencari bunyi yang Leo katakan. Beberapa detik kemudian.

“Huahhhhh, setan” Teriak Leo sambil lari meninggalkan Dino dengan muka kebingungan. 

Sejurus setelah Dino menangkap sinyal dari Leo, Dino berlari ketakutan mengejar Leo. Sesampainya di tenda, Leo menertawai Dino yang terlihat panik dan ketakutan.

“Lu bisa ketakutan juga ternyata, Din. Gua kira lu gak takut setan!” ledek Leo sambil tertawa cekikikan.

***

Matahari sudah mulai mengintip melalui lengkungan air laut. Mereka berlima bergegas dan bersiap untuk diving. Setelah sarapan dan mempersiapkan segala sesuatunya, bapak yang harusnya mengantar mereka tak kunjung datang. Akhirnya Dino berinisiatif untuk pergi ke rumah bapak tersebut. Saat hendak pergi, masih beberapa meter dari tenda terdengar suara Guntur dari langit yang sangat kuat hingga membuat tanah bergetar. Mereka semua terkejut bukan main. Suara Guntur yang tiba-tiba muncul di cerahnya langit semakin membuat mereka kebingungan. Dino yang belum jauh berlari kembali menuju tenda. Langit pun seketika menjadi gelap seolah akan terjadi badai. 

Mereka semua memasuki tenda. Saat Andra akan masuk kedalam tenda, kakinya tertarik oleh sesuatu yang tak terlihat. Leo yang melihat hal itupun spontan menarik tangan Andra. Andra berteriak ketakutan dan memegang tangan Leo dengan sangat kuat. Dino refleks membantu Leo menarik Andra. Tapi sesuatu yang menarik Andra terasa lebih kuat dari mereka berdua. Kaki andra perlahan berdarah seperti bekas cakaran yang membuatnya meringis penuh ketakutan dan kesakitan.

Leo menlantunkan Doa Bapa Kami dan Dion mengucapkan Al Fatihah. Setelah hampir 15 menit saling tarik-menarik akhirnya Andra biasa masuk ke dalam tenda. 

 Tak berhenti disitu, sekarang terdengar suara hujan yang amat deras semakin mendekat ke arah mereka. Kiara dan Jane berusaha untuk keluar dari tenda untuk bergabung di tenda para lelaki, itu akan membuat mereka lebih aman. Perlahan Kiara membuka kancing tenda dan melihat keluar tenda. Sejurus kemudian, Kiara menutupnya denga penuh ketakutan. 

“Kenapa Kir?” Tanya Jane penuh ketakutan

“Jane, Kayaknya akan ada badai besar. Kita gak bisa berlama-lama disini. Semuanya gelap!” Jawab Kirana.

Kiara pun berteriak kepada teman-teman lainnya yang berada di tenda sebelah.

“GUYS, KITA HARUS PULANG, KITA TIDAK BISA BERLAMA-LAMA DISINI!” teriak Kirana

“GIMANA CARANYA KIR? DILUAR ADA MAKHLUK TAK KASAT MATA!” balas Leo

“Kita harus ambil langkah dari pada mati disini. Diluar langit gelap dan air laut terlihat sangat tidak tenang!”

Belum semenit Kiara mengajak mereka untuk pergi, sekarang tenda mereka diguyur oleh hujan yang amat sangat deras dan angin yang sangat kuat yang mengguncang tenda mereka. Kiara dan Jane akhirnya memberanikan diri untuk keluar dan bergabung dengan temannya yang lain. Mereka berlari dan melawan kencangnya angin dengan sekuat tenaga mereka. Tenda yang mereka tinggalkan terbang terbawa oleh angin dan sekarang mereka berdiri tepat di hadapan tenda laki-laki. Dino menurunkan resleting tenda dengan perlahan, Kiara memasuki tenda dan diikuti oleh Jane.  

Setelah hujan agak mereda, Dino mengintip memantau keadaan sekitar. Langit sudah mulai cerah kembali. Dino menutup kembali pintu tenda. Mereka semua ketakutan sampai gemetar. Kiara memeluk Jane mencoba menenangkannya, Andra masih meringis kesakitan karena kakinya yang berdarah. Saat keadaan mulai tenang, tiba-tiba sesuatu yang tajam menembus tenda mereka dan mendarat tepat di wajah Jane. Wajah Jane tergores dan berdarah. Benda tajam itu kemudian tertarik keluar dan menusuk dari sisi lainnya. Mereka semua tiarap untuk menghindari benda tajam yang sekilas terlihat seperti cakar luak yang amat besar. 

Jane meringis kesakitan dan Leo tengkurap sambil menangis dan menyanyikan lagu rohani dalam suara yang kecil. Sekarang tenda mereka bergoncang dengan sangat kuat, seperti diguncang oleh suatu makhluk yang sangat amat besar. Tangisan Leo semakin menjadi, begitu pun Jane. Dino dan Kiara mengucap dengan suara yang tidak stabil, kadang pelan, kadang berteriak. Guncangannya semakin kuat dan tenda mereka terasa seperti akan terangkat. Namun, tiba-tiba goncangannya berhenti dan semua kembali tenang. Dion mengintip dari lubang bekas tusukan benda tajam tadi dan mencoba mencari tahu makhluk apa yang menggoncang tenda mereka dengan sebegitu kuatnya. Setelah melihat sekeliling, Dino tak menemukan apapun. Dan sekeliling tenda terlihat aman.

“Kita harus ambil risiko, kita harus bergegas kembali ke penginapan. Kita tidak bisa bertahan lebih lama disini” Jelas Dino kepada teman-temannya.

“Lu yakin Din?” Tanya Leo dengan penuh keraguan

“Gua yakin Le, gua gak mau kita semua mati di sini!” jawab Dino

“Gua setuju, Din” sahut Kiara dengan suara gemetarnya

“Tapi gua takut!” Balas Jane sambil menangis

“Kita ikut ide Dino teman-teman. Kita gak akan bisa bertahan lama di tenda ini. Tenda ini tidak cukup kuat melindungi kita dari makhluk-makhluk diluar sana.” Jawab Andra mencoba meyakinkan teman-temannya.

Mereka akhirnya memutuskan untuk keluar dari tenda dan kembali menuju penginapan. Satu per satu keluar dari tenda. Kiara merangkul Jane karna badan Jane semakin melemah karena panik. Sementara Dino memapah Andra. Mereka berjalan perlahan meninggalkan tenda. Sesaat kemudian terdengar suara Leo berteriak dari belakang.

“DINO, TOLONGIN! Ya Tuhan Leo masih belum nikah tolong Leo. Kasihan Dinda nanti jadi jomblo!” teriak Leo sambil meringis ketakutan dengan setengah badanya sudah masuk ke dalam pasir.

“LEO!! JANGAN BERGERAK LE!!” Teriak Kiara dari kejauhan.

“KI, KALAU LU GAK SUKA SAMA GUA, NANTI AJA BAHAS NYA KI,, LU MAU GUA MATI TENGGELAM DISINI?” Teriak Leo dengan tangis yang semakin menjadi.

“BUKAN, LE!! SEMAKIN LU BERGERAK, TANAHNYA AKAN SEMAKIN MENGHISAP LU KEDALAM!!”

Kiara membiarkan Jane duduk lalu berlari menuju Leo. Dino pun melakukan hal yang sama. Kiara memberi arahan kepada Leo seperti yang pernah diajarkan mentornya saat pelatihan menyelamatkan diri dari pasir hisap. Perlahan, salah satu kaki Leo berhasil naik keatas permukaan dan disanggah oleh laptop yang Kiara ambil dari backpack Leo. Kemudian Leo menggoyangkan kaki yang satu lagi hingga naik ke permukaan. Setelah beberapa menit Leo berhasil keluar dari pasir hisap itu.

“Laptop gua uda gak ada harganya dimata pasir hisap. Gua nabung 2 tahun padahal buat beli itu! Terimakasih sudah berkorban top!” ucap Leo setelah keluar dari pasir hisap itu sambil menangis dengan badan gemetar dan ketakutan.

Belum sempat bernapas lega, mereka mendengar suara teriakan Jane dan Andra. Mereka ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat dengan sangat cepat. Spontan Dino, Kiara dan Leo mengejar mereka, tapi kecepatan mereka tidak bisa menandingi kecepatan makhluk itu. Mereka mengejar Andra dan Jane, namun akhirnya kehilangan mereka dan suara mereka perlahan hilang. Dino pun berteriak kesal disertai tangis melihat kedua temannya hilang tanpa jejak. Kiara menangis sejadi-jadinya begitupun dengan Leo.

***

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju penginapan. Berjalan melalui hutan dengan semak belukar disertai rintik hujan. Saat sedang berjalan menyusuri hutan, mereka mendengar suara Jane berteriak. Mereka mencoba mencari arah suara itu. Tapi suara itu berpindah-pindah dan membuat mereka kebingungan dan kehilangan arah. Mereka kehilangan jalan setapak yang harusnya bisa menuntun mereka menuju penginapan. Mereka sudah tak punya kompas, peta dan semacamnya. Mereka seolah terjebak dalam hutan belantara tanpa tau kemana harus pergi. Saat sedang berjalan mereka melihat mata air jernih dan memutuskan untuk berhenti minum. Mereka meredakan dahaga mereka di mata air itu dan beristirahat sejenak. Saat tengah beristirahat. Sepasang tangan keluar dari mata air menarik kaki Leo masuk kedalam mata air. Kiara yang berada di dekat Dino spontan menarik Dino dan Leo berlari untuk ikut menarik Leo. Petir menyambar dengan sangat kuat membuat tangis Kiara semakin menjadi sambil menarik Dino dari tangan yang menariknya masuk kedalam. Angin kencang tiba-tiba lalu dari mereka dan tiba-tiba tangan itu melepaskan kaki Dino. Leo memeluk Dino diikuti oleh Kiara. 

“Untuk penjaga hutan dan nenek moyang disini. Jika kami mengganggu kalian atau merusak wilayah atau bahkan mengambil sesuatu yang bukan milik kami. Kami memohon maaf. Biarkan kami meninggalkan tempat ini dengan tenang.” Teriak Leo dengan tangis yang meledak dan penuh ketakutan.

“Le, sejak kapan lu jadi penyembah nenek moyang? Lu kan Kristen!” bisik Kiara sambil menangis.

“Gua percaya Tuhan Yesus Ki, tapi gua mencoba menghargai kepercayaan sekitar” jawab Leo

Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan dengan damai dan sampai di penginapan sekitar pukul 8 malam. Mereka menemui Andra dan Jane terbaring lemah dan penuh luka di penginapan ditemani oleh kakek tua, tetua wilayah itu yang mereka jumpai sebelum berangkat ke pantai.

“Teman kalian mencuri bunga Anggrek Hantu yang ada di ujung pantai dan juga mutiara yang ada di dekatnya. Itu sebabnya para leluhur dan penjaga pulau menyerang kalian. Sekarang istirahatlah dan besok kalian boleh langsung pulang ketempat asal kalian. Kedua teman kalian tidak akan bisa berbicara hingga dua minggu kedepan. Itu hukuman karena mereka sudah merusak harta leluhur dan mengambil sesuatu yang bukan milik mereka.” Tutur kakek tua

Merekapun membersihkan diri dan beristirahat di penginapan meski mereka tidak bisa sedetik pun memejamkan mata. Keesokan harinya mereka langsung kembali ke Jakarta dengan cerita horror sebagai pengganti projek mereka.

 

Penulis : Doras

Leave A Comment