WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Mengenali Fetish: Definisi, Bentuk, Penyebab, dan Penanganan

“Min, kenapa ya… aku ingin memotong rambut ibuku nih. Aku ini hair fetish, Min… aku ingin ungkapin ke ibuku tapi bingung caranya. Ingin banget rasanya aku potong rambut ibuku, bahkan botakin jika perlu…”

Beberapa waktu terakhir, tidak sedikit dari masyarakat Indonesia yang dikejutkan dengan adanya fenomena fetish yang terjadi di tengah masyarakat. Hampir satu tahun sejah kasus mengenai perilaku seseorang yang meminta korban untuk membungkus diri korban tersebut menggunakan kain jarik menyerupai pocong terungkap sekitar bulan Juli 2020 (Fizal, 2021). Fenomena tersebut mendapatkan beragam tanggapan dari masyarakat baik melalui pembahasan di dunia maya maupun di dunia nyata. Sebagian besar dari masyarakat juga menyimpulkan dan memberikan label perilaku tersebut sebuah fetish. Padahal untuk melabeli perilaku dan individu tersebut dengan label fetish perlu asesmen dan penegakkan diagnosa yang hanya boleh dilakukan oleh psikolog maupun psikiater.

Meskipun penegakan diagnosa hanya dapat dilakukan oleh ahli kejiwaan baik psikiater maupun psikolog, tidak ada salahnya kita sebagai masyarakat umum meningkatkan kesadaran akan fenomena-fenomena yang berkaitan dengan kesehatan maupun gangguan mental. Dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman ini diharapkan dapat meningkatkan kehati-hatian kita dalam menilai seseorang dan perilakunya. Salah satunya melalui artikel ini yang akan mengulas lebih mendalam mengenai fetish, fetisisme dan fetishtic disorder dari sudut pandang ilmu psikologi.

closeup photo of cherries

Apa itu Fetish, Fetisisme, dan Fetishistic Disorder?

Sebelum membahas lebih dalam, perlu kita mengetahui perbedaan dua istilah sering digunakan berkaitan dengan fenomena fetish. Istilah pertama adalah fetish didefinisikan sebagai suatu objek material atau benda maupun bagian tubuh nonsexual yang menimbulkan rangsangan seksual pada individu yang bersangkutan (Fetish, t.t.). Secara umum, yang dimaksudkan benda pada definisi tersebut seperti sepatu, pakaian maupun benda lainnya yang tidak diciptakan untuk tujuan seksual. Sedangkan bagian tubuh non seksual yang dimaksud di sini misalnya berupa hidung, siku, lutut, rambut dan lain sebagainya. Secara lebih sederhana, benda atau objek yang pada umumnya tidak menimbulkan rangsangan seksual pada masyarakat umum, tetapi meningkatkan rangsangan atau dorongan seksual pada individu dengan yang memiliki fetish.

APA Dictionary of Psychology (Fetishism, t.t.) mendefinisikan fetishisme sebagai salah satu jenis parafilia yang fokus pada benda mati yang tidak diperuntukan untuk kegiatan seksual yang berulang dan hanya digunakan untuk mencapai kepuasan seksual. Parafilia sendiri merupakan sekelompok gangguan yang salah satunya ditandai dengan adanya perilaku atau fantasi aneh yang penting untuk meningkatkan gairah seksual individu yang bersangkutan (Paraphilia, t.t.). Benda-benda yang digunakan sebagai objek dari perilaku fetisisme ini juga sama seperti pada penjelasan fetish, yakni dapat berupa pakaian, anggota tubuh, kendaraan dan sebagainya.

Secara umum, kondisi fetish dan fetisisme ini tidak dianggap sebagai suatu gangguan atau disorder selama tidak menimbulkan perilaku negatif yang merugikan orang lain (Perilaku Gilang Bungkus Tergolong Fetish? Begini Penjelasan Psikolog, 2020). Sedangkan kondisi fetisisme yang berupa gangguan disebut dengan istilah fetishistic disorder. Ventriglio dkk. (2019) mendefinisikan fetishistic disorder sebagai sebuah bentuk fantasi, dorongan dan perilaku seksual yang menimbulkan gangguan pada beberapa aspek kehidupan seperti kehidupan sosial, pekerjaan maupun aspek lainnya. Meskipun telah mengetahui perbedaan antara ketiga istilah tersebut, diagnosa hanya dapat dilakukan oleh praktisi kesehatan jiwa seperti psikolog dan psikiater.

Bentuk Fetish dan Prevalensi

Setelah mengetahui definisi sekaligus perbedaan sekilas antara fetish dan fetisisme, pada bagian ini akan digambarkan beberapa bentuk fetish. Bentuk fetish yang dijabarkan pada bagian ini hanyalah sebagian kecil dari seluruh bentuk fetish yang ada di dunia. Berikut ini terdapat tiga contoh bentuk fetish baik yang terjadi di berbagai belahan dunia.

1.Rambut

Anggrawal (dalam Griffiths, 2014) menjelaskan mengenai fetish terhadap rambut yang disebut juga dengan istilah trichophilia merupakan salah bentuk fetish dengan objek berupa rambut manusia seperti melihat, menyentuh, mencium maupun memotong. Griffiths  (2014) menambahkan bahwa pada beberapa kasus tertentu rambut yang menjadi objek fetish ini memiliki kriteria seperti aroma, tekstur, warna, ukuran, hingga ditata dengan bentuk tertentu. Salah satunya adalah perilaku fetish pada rambut perempuan yang dilakukan oleh Danilo Restivo yang berakhir dengan kematian korban-korbannya. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang menyebabkan kematian beberapa korban fetishnya, Restivo dijatuhi hukuman 30 tahun di Italia dan hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat karena membunuh korban fetishnya (Allen, 2011).

girl in blue knit sweater

2. Traktor

Sebuah kasus fetish yang cukup aneh terjadi di salah satu daerah di Inggris. Seorang individu berusia 53 tahun memiliki fetish terhadap alat pertanian berupa traktor. Berdasarkan informasi yang didapatkan melalui daily star, individu tersebut mengakui telah melakukan hubungan intim dengan sekitar 450 traktor (Rawle, 2015). Tidak hanya itu, polisi setempat juga menemukan lebih dari 5.000 foto traktor yang tidak senonoh. Meskipun perbuatannya tergolong dalam perilaku yang dapat mengganggu orang lain, ia tidak mendapatkan hukuman kurungan penjara, tetapi ia dilarang untuk pergi ke area pedesaan dan diminta untuk menandatangani daftar sex offender

3.Pakaian

Penelitian yang dilakukan oleh Chalkley & Powell (1983) menunjukkan bahwa fetish terhadap pakaian ditemukan pada lebih dari setengah sampel pada penelitian tersebut. Perilaku fetish terhadap pakaian ini sama beragamnya dengan fetish yang lain dan memiliki beberapa karakteristik yang berbeda-beda antara satu kasus dengan kasus yang lain. Misalnya saja terdapat individu yang memiliki fetish pakaian dengan cara melihat pakaian tertentu, menggunakan pakaian dan masih banyak lagi. Sebuah contoh kasus yang terjadi di Australia, seorang wanita mengalami fetish yang sangat spesifik terhadap topi yang dipakai secara terbalik bagian depan ada di belakang (“I Get Chills,” 2021).

boy in blue and white suit plastic toy

Demikian tiga contoh dan bentuk fetish yang ada di dunia, lantas apakah semuanya mengalami hal serupa dan bagaimana prevalensinya? Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui prevalensi fetish yang ada di masyarakat. Pada masyarakat di barat seperti Eropa dan Amerika, beberapa studi kasus yang dilakukan menunjukkan prevalensi fetish lebih banyak dijumpai pada individu laki-laki dibandingkan perempuan (Ventriglio dkk., 2019). Sedangkan penelitian mengenai prevalensi dari preferensi fetish individu menunjukkan bahwa fetish terhadap bagian tubuh sebesar 33%, benda yang berkaitan dengan tubuh sebesar 30%, perilaku orang lain 18%, perilaku diri sendiri 7%, perilaku sosial 7%, dan objek yang tidak berkaitan dengan tubuh sebesar 5% (Scorolli dkk., 2007).

 

Penyebab Fetish

Berbagai fakta yang telah dijabarkan pada bagian sebelumnya mungkin memunculkan rasa ingin tahu pada diri kita terkait bagaimana kemunculan fetish ini. Berkaitan dengan hal tersebut, berikut ini terdapat beberapa teori yang dapat digunakan untuk memahami penyebab fetish mulai dari psikoanalitik hingga keperilakuan. Pada artikel ini akan dijelaskan kemungkinan penyebab munculnya fetish pada individu menggunakan pendekatan teori keperilakuan.

Teori pertama yang banyak digunakan untuk mengungkap faktor fetish adalah instrumental learning atau juga disebut dengan operant conditioning. pada dasarnya operant conditioning menjelaskan suatu perilaku yang muncul karena adanya konsekuensi yang muncul dari perilaku tertentu. Misalnya saja pada penelitian La Torre (dalam Ventriglio dkk., 2019) menunjukkan dinamika yang serupa dimana laki-laki yang mengalami penolakan pada sebuah hubungan cenderung menilai rangsangan berupa gambar bagian tubuh wanita maupun pakaian wanita. Selain operant conditioning, masih terdapat banyak teori maupun pendekatan lain yang dapat digunakan untuk mengungkap kemungkinan penyebab kondisi ini, seperti teori-teori psikoanalitik. Dengan teori ataupun pendekatan psikoanalitik dimungkinkan praktisi maupun peneliti untuk melihat masa lalu atau kondisi di alam bawah sadar individu yang dapat memberikan insight akan kondisi yang dialami (Kernberg dalam Ventriglio dkk., 2019).

Penanganan Fetish pada Individu

Seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya, fetish bukanlah sebuah gangguan selama kondisi tersebut dijaga dalam ranah pribadi dan tidak menimbulkan perilaku negatif yang mengganggu kehidupan individu tersebut maupun orang lain. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan fetish yang dimiliki seseorang dapat menjadi gangguan berupa fetishistic disorder.  Apabila kondisi fetish yang ada menimbulkan kondisi negatif dan merugikan diri sendiri maupun orang lain maka sangat disarankan untuk mencari pertolongan kepada ahli kesehatan jiwa seperti psikolog dan psikiater.

Secara umum, fetishistic disorder akan mendapatkan penanganan atau terapi sesuai dengan hasil asesmen seperti tipe fetish hingga kemungkinan faktor penyebab kemunculan pada suatu individu. Terapi yang diberikan bisa sangat beragam mulai dari terapi perilaku, terapi kognitif hingga kombinasi kognitif keperilakuan (Ventriglio dkk., 2019). Satu hal yang perlu diingat bahwa terapi psikologis hanya dapat diberikan oleh ahli baik psikolog maupun psikiater.

Pembahasan mengenai fetish memanglah panjang dan sedikit berat untuk dipahami dalam satu waktu. Meskipun demikian, pembahasan ringkas mengenai fetish ini telah sampai pada bagian terakhir. Setelah membaca penjelasan tersebut mungkin di antara pembaca ada yang merasa memiliki tanda-tanda seperti yang tertera pada artikel tersebut. Jika merasakan demikian, jangan langsung mendiagnosa diri sendiri hanya berdasarkan penjelasan singkat yang ada, tetapi carilah ahli dan praktisi yang profesional di bidangnya untuk membantu Anda mengetahui lebih jelas tentang kondisi yang dialami. Terlebih lagi jika kondisi yang Anda alami sudah menjurus pada perilaku negatif yang dapat mengganggu diri sendiri dan orang lain atau bahkan dapat mencelakai orang lain, jangan ragu untuk mencari pertolongan kepada para ahli dan praktisi kesehatan jiwa.

 

Penulis: Anjuni

*artikel ini merupakan kerja sama antara Majalah Sunday dengan KampusPsikologi.com

logo kampuspsikologi

 

Leave A Comment