WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Kasus Bunuh Diri pada Remaja di Tengah Pandemi

Hi Sunners! Semenjak virus Corona melanda seluruh penjuru dunia, kita diwajibkan untuk tetap berada di rumah. Kondisi ini membuat ruang gerak untuk beraktivitas semakin terbatas. Tapi tahu gak, selain virus yang menyerang sistem pernapasan kita, kondisi/keadaan selama pandemi ini juga menimbulkan beberapa khusus lain seperti bunuh diri? Yuk simak penjelasannya…

Pada Maret tahun 2020, World Health Organization (WHO) mengumumkan secara resmi bahwa Coronavirus 2019 (Covid19-19) sebagai pandemi, menjangkit lebih dari 110 negara dan wilayah di seluruh dunia. Social distancing dan karantina/ isolasi mandiri adalah satu-satunya solusi yang dapat dilakukan hingga sekarang, bahkan beberapa negara termasuk Indonesia melakukan lockdown  untuk menghambat penyebaran virus Corona. Kondisi yang tidak dapat diprediksi kapan akan berakhir, serta pemberitaan yang kian hari mengkhawatirkan menyebabkan perubahan pada kesehatan mental dan banyak diantaranya yang berakhir bunuh diri. 

Jika membicarakan kasus bunuh diri, tahun 2016 Indonesia sendiri dalam data WHO memiliki rating yang cukup tinggi dalam kasus percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh remaja. Dari semua kasus yang terjadi, penyebab utama yang sering kali disebutkan tidak jauh dari ‘depresi’. Depresi sering kali dikaitkan dengan bunuh diri, kondisi psikologis ini memicu perilaku yang bisa menyebabkan seseorang mengakhiri hidupnya. Dan semenjak pandemi, isolasi dan karantina yang dipaksakan mengganggu kehidupan sosial, lalu menimbulkan ketakutan dan perasaan seperti terjebak, untuk jangka waktu yang bisa dibilang lama. 

Akhir tahun lalu, disampaikan dalam sebuah artikel, di Jepang korban bunuh diri lebih banyak ketimbang yang meninggal karena virus Corona. Beberapa negara, hal ini dijadikan wawasan baru tentang dampak dari pandemi yang mempengaruhi kesehatan mental dan pada kelas umur mana  yang lebih rentan. 

Saat itu salah satu professor sekaligus pakar bunuh diri dari Waseda University mengatakan bahwa “Kami bahkan tidak melakukan lock down, dan dampak Covid19 sangat minim jika dibandingkan dengan negara lain, tapi kami masih melihat peningkatan besar dalam jumlah kasus bunuh diri,” (Kasus Bunuh Diri di Jepang Meningkat, Lampaui Kematian Covid19 | CNN Indonesia | Kamis, 03/12/2020 13:46 WIB). 

Dari pernyataan sebelumnya, nyatanya memang kondisi pandemi ini tidak bisa dijadikan faktor utama seseorang melakukan bunuh diri. Apalagi pada usia remaja, banyak perubahan yang terjadi, baik fisik maupun psikologis. Pada saat perubahan itu terjadi, banyak remaja yang tidak bisa mengontrol diri dengan baik. 

Kalian pasti pernah merasakan galau karena putus cinta kan? Atau punya trauma masa kecil? Atau merasa tidak didukung dengan lingkungan sekitar? Putus asa? Aku yakin kalian semua pasti pernah merasakan salah satunya. It’s okay not to be okay, Sunners! Bunuh diri bukan jadi satu-satunya opsi kalian untuk mengakhiri masalah yang sedang dihadapi. You deserve the world, Sunners! Kalian bisa mulai dari berbagi dengan bercerita kepada teman atau mungkin orang tua. Dengan begitu mungkin kalian bisa menemukan solusi untuk mengatasi keadaan yang sedang kalian alami. Tapi buat kamu yang mungkin merasa malu, kalian mungkin bisa menggunakan fasilitas seperti psikiater, yang bisa langsung mendatangi klinik atau rumah sakit yang menyediakan layanan serupa. Bisa juga melalui beberapa platform startup yang menyediakan konseling dan bisa diakses melalui media sosial seperti Satu Persen. Dan buat teman-teman yang berhadapan langsung dengan seseorang yang akan melakukan bunuh diri, kalian bisa mengakses website intothelight.org. Di sana banyak tips dan trik hingga hotline darurat yang bisa dihubungi untuk penanganan korban bunuh diri.

 

Mutia Azura Hersta | Politeknik Negeri Media Kreatif

Leave A Comment