WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

“Perempuan”

Islam Memuliakan Wanita

Oleh: Hamidah

Embun di sela kaca jendela dan di balik daun, serta kicauan burung yang menenangkan hati, menambah semangat Hana di pagi hari. Hana adalah seorang gadis yang cantik, usianya kini 23 tahun, ayahnya bernama Habibi, dan ibunya bernama Aisyah. Kini ayah Hana berusia 50 tahun, dan ibunya berusia 45 tahun. Hana adalah anak tunggal, kasih sayang yang ayah dan ibunya berikan kepada Hana tidak pernah pudar sejak Hana masih dalam kandungan hingga sekarang, Hana merasa sangat bangga memiliki kedua orang tua seperti mereka, Ibunya wanita yang cantik, baik, lemah lembut, cerdas, dan rajin sekali. Begitu juga ayahnya, sosok ayah yang sangat bertanggungjawab, pintar mengaji, tegas, dan penyayang.

Sudah menjadi rutinitas di pagi hari. Ayah Hana selalu mengajarkan para santri di pesantren untuk mengaji dan berlatih bela diri. Habibi adalah seorang pemilik sekaligus pengajar di pesantren yang telah dibangun saat Hana berusia 8 tahun. Pesantren ini bernama Al-Hanna, dikhususkan untuk para ikhwan. Walaupun ayah Hana mengajarkan ilmu bela diri kepada para santri di pesantren, tetapi beliau selalu mengajarkan santrinya agar tetap berperilaku lemah lembut, dan harus memuliakan seorang perempuan. 

Di sela-sela latihan. Habibi selalu memberikan sebuah nasihat kepada para santrinya, “Semuanya harap dengarkan pesan saya, ya. Perbedaan fisik antara laki-laki dengan perempuan jelas berbeda, kemampuan fisik perempuan dengan laki-laki pada umumnya memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Secara hormonal, laki-laki lebih berotot dan memiliki tulang serta kulit yang lebih keras dibandingkan perempuan. Namun, jangan pernah merasa lebih kuat dari wanita karena otot dan tulang yang kita miliki, karena Islam itu memuliakan wanita.” Ujarnya.

“Ustaz, bagaimana kedudukan wanita dalam islam?” Tanya Fahri yang merupakan salah satu santri pesantren tersebut.

“Pertanyaan yang bagus, Fahri. Kedudukan wanita dalam Islam sama tingginya dengan kaum laki-laki, karena wanita memiliki keistimewaan yang lebih daripada laki-laki, wanita bisa mengandung, melahirkan, menyusui, yang disebut dengan kodrat seorang wanita.” Jawab Habibi.

“Ustaz, mengapa perempuan sangat dimuliakan oleh Islam?” Tanya Ramzi, yang juga termasuk salah satu santri tersebut.

“Karena perempuan adalah makhluk ciptaan Allah yang sangat mulia, agama Islam meninggikan derajat seorang perempuan sehingga dia menjadi salah satu aspek penting dalam beribadah kepada Allah, dan perempuan yang salihah adalah perhiasan dunia.” Habibi menjelaskan.

“Lalu bagaimana Islam melihat kedudukan perempuan dibandingkan dengan laki-laki?’ Ramzi bertanya kembali.

“Antara perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang sama. Ya, sama-sama makhluk Allah, sama-sama menyembah Allah dan pahala mereka sesuai dengan ujian dan perbuatan mereka.” Jawab ayah.

“Ustaz, adakah wanita yang paling mulia dalam Islam?” Tanya Fuad.

“Jelas ada, mereka adalah Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim yaitu istri Fir’aun, Siti Khadijah, dan Fatimah.” Jawab Habibi.

“Masya Allah.” Sahut seluruh santri.

“Saya ingin menjelaskan mengenai kesetaraan gender antara laki-laki dengan wanita, bahwasannya kesetaraan gender merupakan salah satu hak asasi kita sebagai manusia. Hak untuk hidup secara terhormat, bebas dari rasa ketakutan dan bebas menentukan pilihan hidup, tidak hanya diperuntukkan bagi para laki-laki, perempuan pun mempunyai hak yang sama pada hakikatnya.” Ujar Habibi.

“Baik, untuk latihan hari ini cukup sampai di sini, ya. Besok kita lanjutkan kembali, diingat dan latih terus jurus-jurus yang sudah saya berikan.” Kata Habibi melanjutkan.

“Baik, Ustaz.” Jawab seluruh santri.

Semuanya kembali ke asrama masing-masing, Hana datang menemui ayahnya dan memberikan segelas teh manis, “Ini, Yah. Silakan diminum.” kata Hana sambil meletakkan gelas tersebut di atas meja.

“Terima kasih, ya.” ucap Habibi kepada anaknya.

“Sama-sama, Yah. Eum, santri sudah kembali ke asrama ya?” ujar Hana.

“Iya, sudah. Memangnya kenapa?” tanya Habibi sambil menyeruput teh manis yang diberikan Hana.

“Tidak apa-apa, Yah. Hana cuma bertanya.” Jawab Hana.

Tiba-tiba Hana melanjutkan ucapannya lagi, “Yah, si Fahri pintar ya ilmu agamanya?” tanya Hana tersipu malu. Ayah yang sedang minum teh manis itu tersedak karena pertanyaan anak gadisnya tersebut, “Tumben nanyain Fahri?” tanya Habibi sambil tersenyum.

“Ih, ayah. Hana kan cuma bertanya.” jawab Hana, pipinya mulai memerah.

“Bertanya kan pasti ada sebabnya juga, hehe.” Ayah menggoda Hana.

“Ya sudah, Hana kembali ke rumah, ya. Assalamualaikum.” Hana segera pergi meninggalkan Ayahnya.

“Waalaikumussalam,” jawab Habibi, ia membiarkan anaknya pulang ke rumah. Habibi hanya tertawa mendengar pertanyaan anaknya tersebut. Kemudian Habibi menemui Fahri di asrama, dan memintanya untuk datang ke Habibi ba’da salat magrib. 

Fahri adalah laki-laki yang Hana kagumi. Hana berharap Fahri dapat menjadi imamnya kelak, selain wajah Fahri yang tampan, dia juga memiliki kepribadian yang baik, dia menghormati ayah dan ibunya Hana, dia juga berperilaku sopan kepada setiap orang, Fahri memiliki suara yang merdu ketika mengaji, Hana selalu merasa jantungnya berdebar sangat kencang ketika berhadapan dengan Fahri.

Setelah selesai salat magrib, terdengar suara ketukan dari pintu depan, Hana segera keluar untuk membukakan pintu.

“Assalamualaikum,” ucap Fahri sambil mengetuk pintu.

“Waalaikumussalam.” jawab Hana yang sedang berjalan menuju pintu depan,

Hana terkejut ternyata yang datang ke rumahnya adalah si Fahri, laki-laki yang ia kagumi, ia merasa gugup dengan kedatangan Fahri.

“Eh, Hana. Apa ada ustaz di dalam?” ucap Fahri.

“I-iya ada di dalam, sebentar Hana panggilkan dulu.” jawab Hana.

Hana segera menemui ayahnya dan mengabarkan bahwa Fahri bertamu ke rumahnya. Kemudian Habibi segera datang menemui Fahri bersama dengan ibu Hana, Hana merasa heran mengapa ayah dan ibunya menemui Fahri, apa sebenarnya yang ingin mereka bicarakan? Hana diam-diam mendengarkan obrolan mereka, mengumpat di balik dinding ruang tamu.

Fahri bersalaman dengan Habibi, “Assalamualaikum, Ustaz.” ucap Fahri.

“Waalaikumussalam, Fahri.” jawab Habibi.

“Ada apa ustaz memintaku untuk datang ke sini?” tanya Fahri

“Langsung saja pada intinya, ya Fahri. Saya ini sudah tua. Saya ingin Hana segera bersuami, agar Hana dapat menjadi saksi di pernikahannya, usia kalian juga sudah cukup untuk menikah. Saya mau tanya, apakah nak Fahri bersedia untuk menikahi Hana anak saya?” ujar Habibi, dengan tatapan penuh harap. Hana sangat terkejut dengan ucapan ayahnya, karena sang ayah tidak mengatakan apa-apa kepada Hana sebelumnya.

“T-t-tapi, Ustaz. Fahri ini hanya laki-laki biasa, tidak punya banyak harta. Apakah ustaz yakin dengan Fahri?” ucap Fahri, sedikit gugup.

“Iya, saya yakin. Selama ini saya memperhatikan para santri, yang kualitasnya bagus dan membuat saya kagum yaitu kamu dan ilmu agama yang kamu punya, kamu paham bukan bahwa dalam Islam menyatakan bahwa sebaik-baiknya wanita itu yang paling ringan maharnya? Jadi untuk menikahi Hana, saya dan istri saya sama sekali tidak memberatkan mahar, sesanggupnya kamu saja.” Kata Habibi.

“Benar, asalkan tidak merendahkan, ya. Ingat yang paling ringan maharnya, bukan yang paling murah, berilah yang terbaik untuk Hana” Jawab Ibuku.

“Iya, insya Allah Fahri paham, Ustaz, Ustazah. Tapi apakah Hana mencintai Fahri?” jawab Fahri sedikit merendah.

“Kalau gitu kita tanya langsung sama Hana, ya.” Jawab sang istri.

Ibu dan ayah memanggil Hana, “Na.. Hana.” Hana datang menemui mereka,

“Iya, Yah.” kataku.

“Ayah ingin menikahkan Hana dengan Fahri, apakah Hana mau?” tanya Habibi.

“Jujur Hana sangat kaget dengan keputusan ayah yang tiba-tiba ini. Namun, kalau boleh jujur Hana juga mencintai Fahri.” jawab Hana dengan lembut dan tersenyum.

Fahri yang mendengar ucapan Hana, merasa sangat bahagia, ia merasa tidak percaya dicintai anak ustaz yang sangat cantik, cerdas, dan salehah, “Masya Allah, Fahri sangat senang mendengarnya, selama ini Fahri juga memendam rasa kepada Hana. Namun, Fahri merasa tidak pantas jika harus bersanding dengan Hana yang memang lulusan sarjana.” jawab Fahri, lirih.

“Walaupun Hana seorang sarjana, dan Fahri bukan lulusan sarjana. Itu tidak menjadi masalah bagi Hana, yang terpenting Hana masih dapat menjalani kewajiban dan mendapatkan hak Hana sebagai perempuan, dan juga Fahri dapat menjalankan kewajiban dan haknya sebagai laki-laki.” jawab Hana dengan tegas.

“Benarkah itu, Hana?” tanya Fahri dengan lembut.

“Iya, benar. Namun, Hana ingin bertanya, apakah Hana masih boleh mengajar setelah menikah?” tanya Hana.

“Jelas boleh, semuanya Fahri serahkan kepada Hana, jika Hana ingin tetap mengajar Fahri sangat memberikan kebebasan, asalkan seperti yang Hana ucapkan tadi, Hana tidak melupakan kewajiban Hana nantinya sebagai seorang istri.” ujar Fahri. Kedua orang tua Hana tersenyum mendengar ucapan Fahri dan Hana

Akhirnya Fahri dan Hana menikah, Fahri sangat menghormati dan memuliakan Hana sebagai seorang istri, walaupun Hana seorang sarjana ia tidak sombong dengan title yang ia miliki, seorang perempuan juga dapat bekerja, bukan hanya laki-laki. Namun, seorang istri tidak boleh melupakan kewajibannya. Begitu juga seorang suami, walaupun bekerja untuk memberikan nafkah kepada keluarga tetapi tidak boleh lupa kewajibannya sebagai seorang suami, yaitu membantu istri di rumah dan memberikan nafkah batin.

 Kini Fahri menggantikan Habibi sebagai seorang ustaz di pondok pesantren Al-Hanna. Begitu pun Hana yang juga tetap mengajar di Madrasah Tsanawiyah dekat rumahnya, dan mereka hidup bahagia.

TAMAT

Leave A Comment