WeCreativez WhatsApp Support
Hai, Sunners... Mimin di sini!
Mau ngobrolin apa nih?

Berani Lawan Batas Diri

Keberanian bukan hanya tentang melawan rasa takut, lebih dari itu ia berkaitan dengan tekad, kemauan untuk maju, bentuk pertahanan, dan juga upaya aktualisasi diri. Manusia tak bisa selamanya terjebak dengan masa lalu, hidup dalam pemikiran lampau yang memenjarakan ruang gerak, pendapat, dan keinginan. Sebagai makhluk yang menyadari akan eksistensi dirinya dan orang lain terkadang hal itu menjadi sebuah dinding yang membatasi manusia dari keinginan dan kenyataan. Dinding itu tak terlihat namun nyata adanya.

Jangan terlalu dipikirkan. Hancurkan saja dindingnya. Tak apa jika keinginan dan kenyataan berbeda karena sejatinya perbedaan ada sebagai anugerah dari Tuhan agar kita menyadari bahwa kehadirannya amat indah. Perbedaan tak hanya ada di masa kini, ia telah hadir semenjak masa lalu, karenanya kita belajar arti perjuangan, kebebasan, dan keberanian. Perjuangan yang membawa perubahan agar kita bisa meyakini, bahwa setiap diri amat berarti mau ia laki-laki atau perempuan. Seperti perjuangan Kartini.

“Ayo anak-anak, istirahat sepuluh menit lagi. Sebelum jam pelajaran terakhir, Ibu tunggu daftar nama calon ketua kelas X-IPS-1 di atas meja Ibu.” ucapku sebagai wali kelas di kelas X-IPS-1.

Memasuki tahun ajaran baru, aku diamanahkan menjadi wali kelas di kelas X-IPS-1. Rasanya aku gugup sekali karena akan melihat wajah-wajah baru yang selama dua semester ke depan akan membersamaiku. Setelah masuk di jam pelajaran IPS sekaligus memberikan sambutan sebagai wali kelas, aku meminta kelas X-IPS-1 untuk mengajukan daftar nama calon ketua kelas.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu ruang guru dan muncul salah satu muridku.

“Assalamualaikum. Permisi, Bu Nita. Saya Dani mau mengumpulkan daftar nama calon ketua kelas X-IPS-1, Bu.” ujarnya di hadapanku sambil meletakkan selembar kertas tersebut.

Kulihat daftar nama yang ada di kertas tersebut, berdenyit keningku saat ku lihat ketiga nama yang ada di kertas itu semuanya adalah murid laki-laki.

“Dani, ini kenapa semuanya laki-laki? Tak ada murid perempuan yang mau mencalonkan diri menjadi ketua kelas kah?” ucapku heran.

“Sepertinya banyak yang mau Bu, tapi entah mengapa kelihatannya mereka ragu-ragu” ucap Dani sambil menggaruk kepalanya.

“Ya sudah, kamu kembali ke kelas saja. Besok di jam pelajaran Ibu kita diskusikan kembali mengenai ini, ya.”

“Baik, Bu. Saya permisi,  assalamualaikum.” ucapnya sambil meninggalkan ruang guru.

“Waalaikumsalam” jawabku.

Perjuangan Kartini bukan semata-mata hanya untuk perempuan di zaman itu, melainkan untuk masa depan seluruh perempuan Indonesia. Jasanya sangat berarti dalam membangkitkan rasa percaya diri kaum perempuan di Indonesia. Namun rupanya masih banyak yang takut melawan stigma kolot tentang batasan perempuan

Esoknya, aku masuk ke kelas X-IPS-1 di jam pelajaran IPS, hari ini aku berniat mengajak muridku untuk mengulas kembali kisah Kartini, pejuang emansipasi wanita. Aku yakin mereka sudah tahu sejarah mengenai Kartini.

“Apakah kalian tahu siapa sosok yang ada di gambar ini?” ucapku di depan kelas sambil menunjukkan gambar sosok Kartini.

“Ibu Kartini, Buuu..” ucap muridku serentak.

“Adakah yang bisa menceritakan jasa Ibu Kartini bagi kaum perempuan di Indonesia?”

“Saya, Bu. Saya!” Ucap Kayla dengan penuh semangat.

“Ya, silakan Kayla.”

“Ibu Kartini jasanya luar biasa bagi kaum perempuan di Indonesia. Beliau membebaskan perempuan-perempuan Indonesia dari penindasan, perlakuan tidak adil karena perempuan pada saat itu dianggap sebagai sosok yang tidak setara dan sebanding dengan laki-laki, dan masih banyak lagi jasa beliau. Tanpa beliau, mungkin kita yang perempuan ini tidak dapat mengenyam pendidikan hingga dibangku SMA seperti sekarang. Mungkin itu saja Bu yang dapat saya sampaikan.”

“Baik, terima kasih Kayla. Ayo kita beri tepuk tangan untuk Kayla. Cerita yang sangat luar biasa.” ucapku mengajak murid lainnya memberikan apresiasi kepada Kayla.

“Iya betul sekali ya, tanpa Ibu Kartini kaum perempuan mungkin hingga saat ini masih dianggap sebagai sosok yang tidak dapat memiliki peran yang besar di dalam masyarakat, tidak layak berpendidikan tinggi, dan tidak dapat menjadi seorang pemimpin. Padahal tanpa perempuan, tak akan ada peradaban. Jadi, sebagai perempuan kita harus tetap melanjutkan perjuangan Ibu Kartini karena jasanya yang besar dalam membangkitkan rasa percaya diri perempuan untuk berani melawan stigma mengenai batasan dirinya.” lanjutku menambahkan cerita yang sudah dipaparkan oleh Kayla.

“Ibu percaya kita semua tak ingin mengkhianati perjuangan Ibu Kartini. Saatnya kita buktikan bahwa perempuan bisa menjadi pemimpin dan memiliki peran yang setara dengan laki-laki.”

“Ibu masih membuka pendaftaran bagi kalian yang ingin mencalonkan diri menjadi ketua kelas, ya.” ucapku di akhir pembelajaran IPS hari ini.

Setelah mengulas kembali perjuangan Kartini, selang beberapa menit kemudian beberapa murid perempuan menghampiriku dan menyatakan ingin mencalonkan diri menjadi calon ketua kelas. Aku hanya dapat tersenyum bangga kepada mereka yang berani melawan batasan diri karena peduli dengan nasibnya sendiri.

 

Oleh: Shela Oktaviani, Universitas Negeri Jakarta

Leave A Comment